Hai sobat ABJAYA! Sebelum sesi interview, ada baiknya kamu perlu tahu kata-kata yang harus dihindari saat interview bersama HR atau user.
Cara kamu menjawab pertanyaan interview bisa mempengaruhi pada penilaian HR, seperti kepribadian, kemampuan komunikasi hingga sikap profesional yang kamu tunjukkan.
Supaya kamu tidak salah ngomong, simak kata-kata apa saja yang perlu kamu hindari saat interview dan apa yang sebaiknya kamu katakan selengkapnya!
Kata-Kata yang Harus Dihindari Saat Interview
Ada beberapa kata atau kalimat yang mungkin terdengar biasa saja, tetapi bisa menunjukkan kesan yang kurang profesional. Berikut kata yang harus kamu hindari antara lain:
1. “Saya Tidak Tahu”
Mengatakan “saya tidak tahu” saat interview membuat kamu terlihat kurang siap. Apalagi jika pertanyaan tersebut berkaitan dengan posisi yang kamu lamar.
Hindari jawaban seperti
“Maaf pak/bu, saya tidak tahu tentang hal tersebut”
Sebaiknya, gunakan jawaban seperti
“Saya belum memiliki pengalaman langsung terkait pekerjaan ini. Namun saya tertarik untuk mempelajarinya dan memahami bagaimana penerapannya dalam pekerjaan.”
Jawaban ini menunjukkan bahwa kamu memiliki kemauan untuk berkembang.
2. “Saya Cuma..”
Kata “cuma” atau “hanya” biasanya refleks digunakan ketika seseorang menjelaskan kemampuannya. Padahal, penggunaan kata tersebut membuat kontribusimu kurang bernilai.
Untuk itu, hindari kata-kata
“Saya cuma pernah magang sebagai SEO Writer selama 5 bulan.”
Sebaiknya katakan
“Saya memiliki pengalaman magang sebagai SEO Writer selama 5 bulan. Selama periode tersebut, saya terlibat dalam penulisan artikel seo dan optimasi konten artikel.”
Penjelasan yang spesifik membuat HR paham akan kemampuan diri kamu.
3. “Saya Tidak Bisa”
Ketika HR menanyakan kemampuan kamu, hindari menjawab “saya tidak bisa”. Jawaban tersebut membuat HR menganggap bahwa kamu kurang terbuka terhadap tantangan. Jika memang belum menguasai skill tersebut, jelaskan saja kondisinya sekaligus kemampuan yang sudah kamu punya.
Sebaiknya hindari kalimat seperti
“Saya tidak bisa menggunakan tools tersebut”
Lebih baik katakan
“Saya belum pernah menggunakan tools tersebut. Namun, saya sudah terbiasa menggunakan tools serupa dan bersedia untuk mempelajari sistem yang perusahaan gunakan.”
Jawaban ini terkesan jujur, tetapi tetap menunjukkan inisiatif dan kesiapan kamu untuk beradaptasi.
4. “Saya Butuh Pekerjaan Apa Saja”
Sebagai pencari kerja, wajar jika kamu ingin segera mendapatkan pekerjaan. Namun, mengatakan bahwa kamu menerima pekerjaan apa saja bisa membuat HR mempertanyakan alasan kamu melamar posisi tersebut.
Hindarilah kalimat
“Saya melamar pekerjaan ini karena lagi butuh pekerjaan apa saja”
Sebaiknya katakan
“Saya tertarik dengan posisi ini karena sesuai dengan kemampuan dan bidang yang ingin saya kembangkan. Saya juga melihat kesempatan ini sebagai peluang untuk memberikan kontribusi bagi perusahaan.”
Kamu tidak perlu berpura-pura punya passion yang besar. Cukup jelaskan alasan yang relevan dan masuk akal.
5. “Terserah”
Kata “terserah”memberi kesan bahwa kamu tidak punya pendapat. Daripada menjawab terserah, tunjukkan bahwa kamu tetap punya pertimbangan dan terbuka terhadap pilihan yang tersedia
Hindari kalimat berikut:
“Terserah, saya ikut keputusan perusahaan saja.”
Sebaiknya katakan
“Saya terbuka terhadap pilihan yang tersedia dan siap menyesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Namun, jika memungkinkan, saya juga ingin mengetahui lebih lanjut mengenai tanggung jawab dan ketentuan dari setiap pilihan tersebut.”
Jawaban ini menunjukkan kamu punya fleksibilitas tanpa menghilangkan kemampuanmu untuk menyampaikan pendapat.
6. “Kayaknya Saya Bisa”
Kalau kamu ragu dengan jawaban yang akan kamu sampaikan, jangan mengatakan “kayaknya”. Jika kamu memiliki pengalaman atau kemampuan yang sesuai dengan posisi, sebaiknya kamu sampaikan secara tegas saat interview.
Hindari menjawab seperti ini
“Kayaknya saya bisa mengerjakan tugas tersebut dengan baik”
Sebaiknya katakanlah:
“Saya memiliki pengalaman dalam mengerjakan tugas serupa dan siap untuk menjalankan tanggung jawab tersebut. Jika ada yang belum saya kuasai, saya akan berusaha untuk mempelajarinya.”
Kalimat diatas menunjukkan bahwa kamu punya keyakinan sesuai dengan kemampuan yang kamu miliki.
7. “Saya Tidak Punya Kelemahan”
Ketika ditanya mengenai kelemahan, kamu tidak perlu memberikan jawaban yang membuat kamu terlihat sempurna. Salah satunya dengan mengatakan bahwa kamu tidak punya kelemahan. Padahal, biasanya HR ingin mengetahui seberapa baik kamu mengenali diri sendiri.
Sebaiknya kamu katakan:
“Salah satu hal yang masih saya kembangkan adalah kemampuan mengatur prioritas ketika menghadapi beberapa tugas sekaligus. Saat ini, saya mulai membiasakan diri membuat list pekerjaan dan menentukan deadline agar pekerjaan saya tetap selesai tepat waktu.”
Pilih kelemahan yang benar-benar kamu miliki dan jelaskan juga usaha yang sedang dilakukan untuk memperbaikinya. Hal ini menunjukkan bahwa kamu berkomitmen untuk berkembang menjadi lebih baik.
8. “Saya Perfeksionis”
Jawaban “saya perfeksionis” biasanya sering digunakan ketika HR menanyakan kelemahan kandidat. Jika memang kamu mempunyai standar kerja yang tinggi, jelaskan bagaimana hal tersebut mempengaruhi pekerjaanmu.
Hindari menjawab:
“Saya terlalu perfeksionis. Saya ingin semuanya sempurna.”
Sebaiknya katakan:
“Saya cenderung terlalu detail dalam bekerja. Namun, saya juga sedang belajar bagaimana mengatur waktu supaya tetap bisa menjaga kualitas pekerjaan saya.”
Jawaban diatas menunjukkan bahwa kamu paham cara mengelola prioritas pekerjaan.
9. “Atasan Saya Red Flag”
Ketika ditanya mengenai alasan resign atau pengalaman kerja sebelumnya, hindari memberikan komentar negatif tentang atasan, rekan kerja, ataupun perusahaan lama. Walaupun kamu memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan, menyampaikan keluhan saat interview sangatlah tidak profesional.
Hindari jawaban seperti:
“Saya resign karena atasan saya sangat red flag dan lingkungan kerjanya tidak nyaman.”
Sebaiknya katakan:
“Saya sedang mencari kesempatan baru untuk mengembangkan kemampuan saya. Selain itu, saya juga ingin mencari pengalaman seluas-luasnya.”
Intinya, fokuslah pada alasan profesional tanpa harus menyudutkan pihak lain.
10. “Gajinya Berapa?”
Rules terakhir yang tidak boleh kamu tanyakan pertama kali saat interview adalah terkait nominal gaji. HR bisa menilai bahwa kamu kurang profesional. Sebaiknya, tunggu sampai pembahasan terkait gaji dimulai atau sampaikan pertanyaan dengan cara yang lebih profesional.
Hindari kata-kata:
“Gajinya berapa ya?”
Sebaiknya gunakan kata-kata berikut:
“Jika memungkinkan, saya ingin mengetahui lebih lanjut mengenai kisaran gaji dan benefit yang disediakan untuk posisi ini.”
Dengan begitu, kamu tetap bisa mendapatkan informasi yang kamu butuhkan tanpa hanya terkesan fokus pada nominal gaji.
Tips Memilih Kata yang Tepat Saat Interview
Selain menghindari kata-kata diatas, kamu perlu mengetahui tips memilih kata yang tepat agar terlihat natural. Berikut tips memilih kata saat interview:
- Gunakan contoh nyata
Jangan hanya mengatakan bahwa kamu teliti atau mampu bekerja dalam tim. Tapi gunakan contoh nyata berdasarkan pengalaman yang pernah kamu lakukan. Kamu bisa menunjukkan portofolio sebagai bukti real hasil kerjamu. - Jawab jujur dan percaya diri
Kamu tidak perlu mengatakan bahwa kamu serba bisa. Jika memang belum punya pengalaman, jawab saja dengan jujur dan percaya diri. Jelaskan juga bahwa kamu akan mengembangkan kemampuan tersebut. - Jangan menghafal jawaban
Kamu boleh menyiapkan beberapa jawaban, tetapi jangan menghafal jawaban tersebut. Lebih baik gunakan kata-katamu sendiri agar penyampaiannya lebih natural.
Penutup
Jadi, bagaimana Sobat? Apakah sudah paham kata-kata apa saja yang harus kamu hindari saat interview? Supaya interview kamu lancar, kuncinya adalah menyampaikan jawaban secara jujur, percaya diri, dan tetap profesional.
Dengan komunikasi yang tepat, kamu bisa menghadapi interview dengan lancar dan pastinya meningkatkan peluang lolos interview kerja. Terimakasih telah membaca artikel ini. Jangan lupa share dan terus ikuti artikel-artikel kami lainnya yang membahas seputar dunia kerja!
Artikel terkait interview:




